Kau Ingin Mencari Wanita yang Seperti Apa?













Assalamualaykum WR. WB.


Hello
s
ahabat pembaca dimanapun berada!


Teruntuk sobat yang masih
sendiri, pernahkah sobat berfikir ingin mempunyai istri yang seperti apa?


Mudah-mudahan postingan kali ini
dapat menjadi sumber inspirasi bagi sobat yang sedang mendambakan pendamping
hidup yang dapat menjadi jembatan kebahagiaan dunia dan akhirat.


Aamiin.


 


Selamat Membaca!


 


Kau Ingin Mencari Wanita yang
Seperti Apa?


 


“ANAKKU engkau ingin mencari
wanita yang seperti apa untuk menjadi istrimu?


Adakah ia seperti Khadijah RA,
wanita solehah yang dicintai Allah serta mendapat salam khusus dari-Nya?


Adakah ia seperti Aisyah RA yang
dinyatakan lebih mulia dibanding wanita sejagad oleh Nabi Muhammad?”


Ujar perempuan yang melahirkanku
dari rahimnya.


Ialah ibu, penuntunku dalam
kebijaksanaan, kesantunan dan kebenaran.


 


“Tidak, Bu. Celakalah diriku
apabila menyejajarkan diri dengan Nabi sehingga berhak mendapatkan
wanita-wanita yang demikian mulianya di sisi Allah.”


 


“Apa mungkin dirimu ingin mencari
istri yang seperti ibu?


Mengasuh dan membesarkanmu dengan
kasih sayang tanpa batas waktu?”


 


“Tidak, Bu. Celakalah diriku
apabila menyejajarkan calon istriku seperti ibu.


Bagiku tak ada yang bisa
melampaui kasih sayang ibu, sebab limpahan do’a-do’amu serta belaian abdi
tulusmu ialah karomah terbaik dalam hidupku.”


 


Lalu, wanita seperti apa yang
dirimu cari anakku?”


 


<Wanita Langit yang Membumi


 


“Wanita yang menjadi dirinya
sendiri.


Memuliakan Allah dengan
kemandirian hati, tidak terikut pengaruh lembaga atau pun organisasi, tetapi mengikut
Al-Qur’an dan Hadis dengan sepenuh nurani.


Wanita yang mencintaiku dengan
hati setelah kami menikah nanti, tidak karena pengaruh hasrat birahi sebelum
direstui, dan tidak pula karena harta atau paras yang ku miliki,


tetapi berpedoman pada kesadaran
cinta itu penyempurna separuh agama sehingga mesti disyiarkan secara syari.”


 


Sulit sekali menemukan
wanita seperti itu di zaman sekarang, Nak.”


 


“Apakah untuk menjadi wanita yang
memiliki kemandirian hati dalam beriman serta mencintai suaminya dengan hati
setelah pernikahan itu pekerjaan yang sulit, Bu?”


 


 “Bekerja memandirikan hati dalam
beriman pada Illahi seharusnya tidak sulit, sebab setiap manusia beragama pasti
mengimani adanya Allah dalam hatinya.


Hanya saja, banyak di antara
mereka yang menyulitkan diri sendiri dengan memasukkan hal-hal yang dapat
mempengaruhi kadar keimanan kepada Allah dalam hatinya,


misalnya masih suka berhias untuk
dipuji lelaki yang bukan suaminya, lalu pujian itu dimasukkan dalam hatinya.”


 


Bidadari Idaman Pria Sejati


 


“Apakah memasukkan pujian ke
dalam hati itu tidak boleh?”


 


Pujian itu musibah
yang paling melemahkan, banyak orang berlomba-lomba mengharap dipuji orang lain
sehingga kerap menyalahi aturan. Kalaulah wanita dipuji karena kemahirannya
menghias diri oleh orang lain, padahal lelaki yang memujinya itu bukan
suaminya, tentu jangan sampai dimasukkan ke hati.


Sebab kekaguman Itu timbul atas dasar
birahi, sehingga dengan memasukkan unsur pujian yang mengandung birahi ke dalam
hati tentu sebuah kesalahan.”


 


“Lalu, bagaimana caranya seorang
wanita dalam menanggapi pujian yang demikian?”


 


“Baiknya segera istigfar, dan
cobalah pandangi diri sendiri.


Adakah dirinya sudah berdandan
secara berlebihan sehingga menimbulkan zina mata bagi yang memandangnya
sampai-sampai lelaki itu memuji untuk sesuatu yang belum halal, agar lain kali
dapat mengubah penampilannya dengan hiasan yang biasa saja untuk menghindarkan
potensi birahi para lelaki yang memandangnya.”


 


Untuk wanita yang mencintai
seorang lelaki setelah menikah apakah itu juga sulit?”


Seharusnya tidak
sulit, jika wanita itu mengerti bahwa rasa cinta terindah itu bukan kekaguman
tetapi pengabdian yang dilandasi ikhtiar kesanggupan memuliakan kasih, sayang,
dan setia dalam ikatan pernikahan.


Namun sayangnya, banyak wanita yang
ingin menguji kesetiaan, kasih sayang dan cinta dari lelaki yang mengaguminya
sebelum adanya pernikahan dengan alasan agar tidak salah pilih, padahal dengan
tindakan yang demikian justru dirinya sudah merendahkan derajatnya pada kadar
terendah sebuah hubungan, yaitu dengan pacaran.”


 


“Terima kasih atas nasehatnya,
Bu. Insya Allah apa yang Ibu sampaikan akan menjadi penguatan bagiku dalam
menemukan jodoh terbaik.”


 


Demikianlah wanita idaman pria
sejati, perempuan langit yang membumi, (perangai atau keimanannya setinggi
langit, namun kerendahan hatinya serendah bumi)


 


 


Semoga
Bermanfaat.






0 komentar