Ternyata, Aku Masih Belum Bisa Move-on dari Samsung

Pada bulan April kemarin, mau gak mau saya harus ganti smart phone.
Emang sih sudah direncanain sejak beberapa bulan sebelumnya.
Puluhan bahkan ratusan kali saya nonton unboxing dan review dari banyak channel Youtube.
Semata-mata hanya ingin mendapatkan banyak informasi, referensi dan rekomendasi dari calon kandidat smart phone yang akan saya beli.

Dari sekian banyak Brand atau merek smartphone yang ada, hanya beberapa aja yang masuk list.
Sedikitnya merek smartphone yang saya minati bukan karena soal spesipikasi dan harga semata.
Tapi yang menjadi pertimbangan bagi saya dalam memilih smartphone diantaranya:
1. Tingkat aksesibilitas untuk penggunaan aplikasi pembaca layar,
2. Bentang layar yang tidak terlalu lebar, atau dibawah 6 inchis,
3. Spesipikasi yang standar seperti RAM 4GB, memory minimal 32GB, kamera minimal 13MP,masih ada jack 3,5/mm, sepiker gril di atas, dll,
4. Fitur yang cukup lengkap, seperti FM radio, NFC, pingger print dll,
5. Tentu saja harga yang sesuai dengan isi saku.

Dari sekian criteria yang ada, akhirnya pilihan saya jatuh ke Samsung Galaxy A8 (2018).
Soal spesipikasi dan harga, tentu saja masih banyak pilihan selain Samsung Galaxy A8 ini, dengan harga yang jauh lebih murah kita bisa mendapat smartphone yang lebih tinggi dari HP ini.
Tapi inilah smartphone yang paling memenuhi criteria yang ada menurut hemat saya.

Terlepas dari itu semua, intinya ternyata saya masih belum bisa move-on dari Samsung.
Karena, sejak saya kenal yang namanya Android, saya belum pernah mencoba brand lain selain Samsung.
Android pertama saya yaitu Samsung Galaxy Young, terus ganti ke J3 Pro (2017).
Saya kira tahun 2019 ini rencananya pengen nyobain Android One/Android stock/Android Murni, eh akhirnya malah Samsung Galaxy A8 (2018).
Tapi biarlah, mungkin saya berjodoh dengan smartphone ini, mudah-mudahan bisa membawa kemaslahatan dan memberi manfaat yang banyak bagi saya.

0 komentar