5 Perkara Yang Mengundang Bencana

Sejak 1440 tahun yang lalu, Rasulullah SAW telah mewasiatkan pada umatnya agar senantiaasa menjaga dirinya dari datangnya musibah atau bencana.
Ada 5 hal yang bisa mengundang datangnya bencana pada diri kita.

1. Perzinahan yang merajalela,
Dari zaman purbakala sampai menjelang hari kiamat pun, yang namanya perzinahan pasti akan selalu ada, karena itu sudah menjadi ujian bagi orang-orang yang beriman. Hanya saja mampuhkah kita menjaga diri dari hal demikian?
Mampuhkah pemimpin atau pemerintah meminimalisir praktek kemaksiatan yang satu ini?
Tentu saja itu tergantung seberapa sunguh-sungguh pemangku kebijakan untuk mengentaskan permasalahan ini.
Akan tetapi bagaimana kalau malah dilegalkan? Kalau sampai terjadi demikian, tentu saja itu sudah sangat bertolak belakang dengan syariat Islam. Dan pembangkangan terhadap syariat atau ajaran Allah akan ada resiko atau konsekwensi yang harus diterima. Bahkan yang akan merasakan bencana atau hukuman atau teguran itu bukan hanya mereka yang melakukan kezoliman, namun orang sholeh pun yang ada di lingkungan yang terjadi kemaksiatan akan turut merasakan penderitaan.
(Baca juga: Berprasangka Baiklah pada Allah SWT
Dengan Mengingat Allah, Hati Menjadi Tenang
Menghafal Semudah Tersenyum)
2. Hilangnya kejujuran pada diri setiap manusia,
Dalam hal ini Rasulullah menganaligikan pada pedagang yang mengurangi timbangan. Tapi dalam realita kehidupan, kecurangan atau ketidak jujuran itu bukan hanya dimiliki oleh pedagang aja. Siapa pun kita berpeluang untuk melakukan kecuragan yang sangat merugikan orang lain. Terlebih seorang penguasa, dengan kekuasaannya dia bisa melakukan berbagai macam kecurangan untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

3. Kaum aghnia yang menahan tangannya,
Artinya, orang-orang yang telah Allah berikan kecukupan dari segi harta, mereka berlaku bakhil atau kikir. Padahal pada rezikinya terdapat hak-hak fakir miskin yang harus ditunaikan, baik berupa zakat, infaq mau pun shodaqoh.

4. Pengingkaran manusia terhadap keesaan Allah (kemusyrikan yang dipelihara),
Tak dapat dipungkiri, bahkan kita kerap kali melihat baik secara langsung maupun melalui media masa baik elektronik mau pun cetak. Terlampau banyak praktek kemusyrikan di negeri ini dengan dalih memlihara dan menjaga budaya bangsa. Padahal itu semua sudah jelas, praktek-praktek kemusyrikan tersebut sangat bertolak belakang dengan ajaran agama.

5. Para pemimpin yang muslim mulai meninggalkan syariat Islam,
Dengan dalih nasionalisme, keragaman, dan hak azasi manusia, kebijakan yang dikeluarkan pemangku kebijakan tidak lagi berlandaskan kebenaran hakiki. Nafsu duniawi yang mencengkram jiwa-jiwa pemimpin kita, telah membuat mata, telinga mereka seakan buta dan tuli dari kebenaran. Karena nafsunya pulalah mereka seakan tak berhati nurani lagi. Yang penting kepentingan pribadi dan golongannya terpenuhi, masa bodoh dengan urusan orang lain.

(Tulisan ini merupakan rangkuman dan pengembangan dari isi khutbah pada Jum’at, 4 Oktober 2018.

0 komentar